Pertolongan Pertama Saat Digigit Ular Berbisa

Berikut infografis yang saya buat:

_20180424_001129[1]

Advertisements

RISET : EKSPEDISI OWA DAN EKSPEDISI LUTUNG

RISET DUA ALTERNATIF PILIHAN EKSPEDISI 2018 – Setelah merampungkan 8x latihan persiapan, maka Penggalang Oase berencana akan melakukan Ekspedisi pada pertengahan / akhir bulan Juli 2018.

Ada dua alternatif pilihan ekspedisi, yaitu:

  1. Ekspedisi OWA (3 hari 2 malam ke TN Halimun)
  2. Ekspedisi LUTUNG (5 hari 4 malam ke Situ Gunung)

 

EKSPEDISI OWA – TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (TNGHS) – Resort Cikaniki

TNGHS 
Pic: Wikipedia
  • LOKASI :

Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan Taman Nasional terluas di pulau Jawa.  Secara administratif, kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak berada di dua provinsi dan tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di Provinsi Banten. 

TNGHS1 
Pic: Wikipedia

Bumi Perkemahan atau Camping Ground

Salah satu kegiatan yang dapat dikembangkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah tempat berkemah atau camping ground di bumi perkemahan yang sudah tersedia sumber air dan kamar mandi. Lokasi nya terdapat di Citalahab, Cikalet, Wates, Cangkuang, Sukamantri dan Gunung Bunder.

  • ALTERNATIF TRANSPORTASI:

Terdapat dua akses menuju kawasan Gunung Halimun yaitu dari Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan pengamatan dari Google Maps mengenai Jalur Bogor dan Sukabumi terdapat perbedaan yang sangat signifikan yaitu jarak tempuh. Jalur melalui Bogor jauh lebih dekat dari Jakarta.

Arah menuju Taman Nasional Gunung Halimun Salak dari lokasi terpopuler di Jakarta menggunakan bis.

  1. Perjalanan dari Stasiun Cilebut, Kota Bogor ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak menggunakan transportasi umum : membutuhkan waktu kira-kira 74 menit menggunakan Bis-19, Bis-15, dan Bis-13
  2. Perjalanan dari Terminal Bis Baranangsiang, Kota Bogor ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak menggunakan transportasi umum: membutuhkan waktu kira-kira 74 menit menggunakan Bis-03, Bis-15, dan Bis-13
  3. Perjalanan dari Ciawi, Bogor ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak menggunakan transportasi umum: membutuhkan waktu kira-kira 93 menit menggunakan Bis-21, Bis-03, Bis-15 dan Bis-13

Stasiun terdekat dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah: Jalan Situdaun berjarak 971 meter , dengan berjalan 13 menit.

Jalur bis yang berhenti dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak : Bis-13

  • JENIS HUTAN, HEWAN DAN TUMBUHAN YANG DAPAT DITEMUI:

HUTAN

Tutupan hutan di taman nasional ini dapat digolongkan atas 3 zona vegetasi:

  • Zona perbukitan (colline) hutan dataran rendah, yang didapati hingga ketinggian 900–1.150 m dpl.
  • Zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), antara 1.050–1.400 m dpl; dan
  • Zona hutan pegunungan atas (montane forest), di atas elevasi 1.500 m dpl.

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan Gunung Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

HEWAN (FAUNA)      

Tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas. Dari antaranya terdapat 23 spesies burung migran. Wilayah ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora).

TNGHS2 
Pic: Wikipedia – Elang Jawa Spizaetus bartelsi

Catatan sementara herpetofauna di taman nasional ini mendapatkan sejumlah 16 spesies kodok, 12 spesies kadal dan 9 spesies ular. Daftar ini kemudian masing-masing bertambah dengan 10, 8, dan 10 spesies, berturut-turut untuk jenis-jenis kodok, kadal, dan ular. Namun, daftar ini belum lagi mencakup jenis-jenis biawak dan kura-kura yang hidup di sini.

Mamalia terdaftar sebanyak 61 spesies. Di antaranya termasuk jenis-jenis langka seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus)

Dalam Ekspedisi ini hewan yang menjadi target riset adalah Owa Jawa.

TNGHS3 
Pic: Republika – Owa Jawa

TUMBUHAN (FLORA)

Catatan sementara mendapatkan lebih dari 500 spesies tumbuhan, yang tergolong ke dalam 266 genera dan 93 suku, hidup di kawasan konservasi ini.

Penelitian pada zona perbukitan di wilayah Citorek mendapatkan 91 spesies pohon, dari 70 marga dan 36 suku. Suku yang dominan adalah Fagaceae, yang diwakili oleh 10 spesies dan 144 (dari total 519) individu pohon; diikuti oleh Lauraceae, yang diwakili oleh 9 spesies dan 26 individu pohon. Jenis-jenis yang memiliki nilai penting tertinggi, berturut-turut adalah ki riung anak atau ringkasnya ki anak (Castanopsis acuminatissima), pasang parengpeng (Quercus oidocarpa), puspa (Schima wallichii), saketi (Eurya acuminata), dan rasamala (Altingia excelsa). Jenis-jenis tersebut selanjutnya membentuk tiga tipe komunitas hutan yang terbedakan di lapangan, yakni tipe Castanopsis acuminatissima – Quercus oidocarpa; Schima wallichii – Castanopsis acuminatissima, dan Schima wallichii – Eurya acuminata.

Dua plot permanen yang dibuat pada hutan submontana di ketinggian 1.100 m dpl., yakni dekat Stasiun Riset Cikaniki dan di gigir utara G. Kendeng, berturut-turut didominasi oleh rasamala (A. excelsa) dan ki anak (C. acuminatissima). Sedangkan plot permanen pada hutan montana di bawah puncak G. Botol pada elevasi 1.700 m dpl, didominasi oleh pasang Quercus lineata. Hutan montana di atas 1.500 m dpl. umumnya dikuasai oleh jenis-jenis Podocarpaceae, seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), ki bima (Podocarpus blumei) dan ki putri (P. neriifolius).

Di taman nasional ini juga didapati sekurang-kurangnya 156 spesies anggrek; diyakini jumlah ini masih jauh di bawah angka sebenarnya apabila dibandingkan dengan kekayaan anggrek Jawa Barat yang tidak kurang dari 642 spesies.

TNGHS4 
Pic: comicfever - Anggrek
  • HAL MENARIK YANG DAPAT DITEMUI:

Ada dua pintu gerbang yang bisa diakses menuju TNGHS, yaitu Gerbang Gunung Bunder dan Gerbang Gunung Sari Pamijahan. Selain bumi perkemahan, pemandian air panas dan Kawah Ratu, di tempat ini tersebar beberapa air terjun yang bisa dipilih untuk didatangi. Dari Gerbang Gunung Bunder secara berurutan kita dapat mengunjungi Curug Cihurang, Curug Ngumpet 1 dan 2 yang diseling oleh Curug Pangeran, serta Curug Seribu dan Curug Cigamea.

Dari informasi yang didapat, tujuan favorit yang dipilih pengunjung TNGHS adalah Curug Seribu yang merupakan air terjun yang paling tinggi dengan debit air yang paling besar di wilayah ini. Namun bagi yang memilih untuk ke tempat ini sebaiknya memiliki stamina yang baik karena Curug Seribu memiliki jalur trekking yang cukup menantang, dengan panjang kurang lebih 3 kilometer melalu jalur basah, licin, berbatu dan curam. Jalur ini harus ditempuh sekurang-kurangnya satu jam untuk sekali jalan, terasa lebih mudah saat turun mendatangi namun sangat melelahkan saat kembali karena perjalanan yang mendaki. Disekitar Curug Seribu ini juga terlihat banyak vila dan resor yang disewakan.

TNGHS5.jpg 
Pic: jejakpiknik.com – Curug Seribu
  • PELAYANAN KESEHATAN TERDEKAT:

Puskesmas Cibungbulang, Cibatok 1, Cibungbulang, Bogor, West Java 16630

 TNGHS6.jpg 
Pic: puskesmascibungbulang.com
  • BAHAYA YANG MUNGKIN TERJADI:

Gas beracun, gempa dari perut bumi.

EKSPEDISI LUTUNG – TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO (TNGGP) – Resort Situ Gunung

TNGGP 
Pic: Wikipedia
  • LOKASI :

Secara administratif, kawasan TNGGP berada di wilayah 3 kabupaten yakni Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

TNGHS1 
Pic: Wikipedia
TNGGP2.jpg 
Pic: Wikipedia – Gunung Gede (kiri) dan Gunung Pangrango (kanan)

Sebagaimana namanya, taman nasional ini memiliki dua puncak kembar, yakni Puncak Gede (2.958 m dpl) dan Puncak Pangrango (3.019 m dpl). Kedua puncak itu dihubungkan oleh gigir gunung serupa sadel pada ketinggian lk 2.400 m dpl, yang dikenal sebagai daerah Kandang Badak. Gunung Pangrango yang lebih tinggi, memiliki kerucut puncak yang relatif mulus, tipikal gunung yang masih relatif muda usianya. Gunung Gede lebih rendah, namun lebih aktif, dengan empat kawah yang masih aktif yaitu Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru.

  • ALTERNATIF TRANSPORTASI:

Untuk pendakian Gunung Gede Pangrango terdapat beberapa gerbang masuk utama yaitu Cibodas, Cipanas dan  Selabintana.

Untuk sampai ke pintu pendakian Gunung Gede Pangrango di Cibodas dan Cipanas tidak dapat naik bus sekali jalan, harus transit. Inilah beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk sampai ke daerah puncak, :

Transportasi Menuju Puncak Bogor, Jawa Barat

Alternatif 1 : Jakarta Kampung Rambutan, naik bus Limas (Bogor – Jakarta Kampung Rambutan) Turun di Bogor. Dari Bogor, naik bus Parung Indah (Bogor – Cianjur) Turun di Puncak.

Alternatif 2 : Jakarta Kampung Rambutan, naik bus Limas (Bogor – Jakarta Kampung Rambutan) Turun di Bogor. Dari Bogor, naik bus MGI (Bogor – Garut) turun di Puncak.

Alternatif 3 : Jakarta Lebak Bulus, naik bus Agra Mas (Jakarta – Bogor) turun di Bogor, dari Bogor naik bus Parung Indah (Bogor – Cianjur) turun di Puncak.

Alternatif 4 : Jakarta Kampung Rambutan, naik bus Primajasa (Jakarta – Balaraja) turun di Balaraja, dari Balaraja naik bus Garuda Pribumi (Merak-Bandung Leuwi Panjang) turun di Puncak.

Cibodas

Setelah naik bus dan sampai kawasan puncak turun di pertigaan Cibodas, lalu naik mobil angkutan kecil ke arah Kebun Raya Cibodas. Di sekitar Kebun Raya Cibodas banyak terdapat tempat parkir dan pedagang makanan juga oleh-oleh, tidak jauh dari sana sudah dapat ditemukan pos pendaftaran untuk pendakian Gunung Gede Pangrango.

Cipanas

Turun di Pasar Cipanas, dari belakang pasar yang juga menjadi terminal ini bias naik mobil angkot ke Gunung Putri.

Selabintana

Pendakian Gunung Gede Pangrango via Selabintana ini sedikit berbeda, jika dua pintu pendakian sebelumnya berada di daerah Puncak. Untuk Selabintana maka harus menuju Sukabumi. Berikut beberapa jadwal bus dari Jakarta ke Sukabumi :

Transportasi Menuju Puncak Bogor, Jawa Barat

Bus Langgeng Jaya : Jakarta Kampung Rambutan – Sukabumi

Bus Tunggal Daya : Jakarta Pulogadung – Sukabumi

Bus Tunggal Daya : Jakarta Kali Deres – Sukabumi    

Bus Parung Indah : Jakarta Lebak Bulus – Sukabumi

Setelah sampai di terminal Sukabumi, bisa melanjutkan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum ataupun carter mobil.

  • JENIS HUTAN, HEWAN DAN TUMBUHAN YANG DAPAT DITEMUI:

HUTAN

Secara tradisional, pada garis besarnya para ahli membedakan tipe hutan primer yang ada di pegunungan ini atas dua jenis, yakni tipe hutan tinggi (high forest) dan tipe hutan elfin atau hutan lumut. Hutan tinggi di pegunungan ini lebih lanjut dibedakan atas hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Sedangkan hutan elfin dinamai pula sebagai hutan alpinoid atau vegetasi sub-alpin.

  1. Hutan pegunungan bawah

Hutan pegunungan bawah atau hutan submontana di Gede-Pangrango berada pada kisaran ketinggian 1.000 hingga 1.500 m dpl. Hutan ini dapat segera dikenali oleh sebab kekayaannya akan jenis-jenis pohon, dengan atap tajuk (kanopi) setinggi 30-40 m, dan 4-5 lapisan tajuk vegetasi. Dari segi floristiknya, Junghuhn dan Miquel menamai zona hutan ini sebagai zona Fago-Lauraceous, karena didominasi oleh jenis-jenis Fagaceae, misalnya pasang (Lithocarpus, Quercus) dan saninten (Castanopsis), serta jenis-jenis Lauraceae seperti aneka macam medang (Litsea spp.); diikuti dengan jenis-jenis lain, bahkan hingga sebanyak 78 spesies pohon dalam satu hektare. Di atas kanopi rata-rata, kadang mencuat pohon-pohon tertinggi yang dikenal sebagai sembulan (emergent trees), dari jenis-jenis Altingia (rasamala), Dacrycarpus (jamuju), dan Podocarpus (ki putri).

2. Hutan pegunungan atas

Hutan pegunungan atas atau hutan montana di Gede-Pangrango sering memiliki garis batas yang tajam, mudah terbedakan dari hutan pegunungan bawah dengan melihat kanopi yang relatif seragam, lk. setinggi 20 m, jarang terlihat adanya sembulan atau pohon pencuat, daun-daunnya cenderung berukuran kecil, tumbuhan bawahnya pun tidak setebal atau setinggi di hutan pegunungan bawah; banyak berkabut, hutan ini memberikan kesan lebih terbuka dan sunyi. Jarang pula dijumpai adanya tumbuhan pemanjat (liana). Hutan pegunungan antara Cibeureum (1.750 m dpl) dengan Kandang Badak (2.400 m dpl) didominasi oleh jamuju (Dacrycarpus imbricatus).

3. Vegetasi subalpin

Di sebelah atas Kandang Badak, fisiognomi hutannya kembali berubah. Tajuknya pendek-pendek, hanya mencapai beberapa meter saja; batang pohon tuanya berbonggol-bonggol dan berkelak-kelok, bahkan memuntir. Tutupannya begitu renggang dengan tajuk yang hanya satu lapis, sehingga di hari cerah cahaya mentari leluasa menerangi lantai hutan. Akan tetapi cuaca di sini mudah berubah tiba-tiba dengan datangnya kabut, suhu udara pun dapat mendadak turun hingga ke tingkat yang membekukan. Dengan jarangnya hujan turun, walaupun berkabut, pada musim kemarau hutan ini acap mengalami kekeringan atau kekurangan air. Lapisan tanahnya tipis dan banyak berbatu-batu; di tempat-tempat yang lapisan tanahnya relatif dalam, pohon-pohon tumbuh lebih besar, menunjukkan bahwa mengerdilnya pohon-pohon di zona ini lebih disebabkan oleh ketersediaan tanahnya. Jenis yang dominan adalah cantigi gunung (Vaccinium varingifolium).

HEWAN (FAUNA)           

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki kekayaan jenis hewan yang cukup tinggi, terutama di zona hutan pegunungan bawah. Beberapa jenisnya yang terhitung langka, endemik atau terancam kepunahan, di antaranya, adalah owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata), anjing ajag (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), biul slentek Melogale orientalis, sejenis celurut gunung Crocidura orientalis, kelelawar Glischropus javanus dan Otomops formosus, sejenis bajing terbang Hylopetes bartelsi, dua jenis tikus Kadarsanomys sodyi dan Pithecheir melanurus.

Beberapa jenis burung seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi), serak bukit Phodilus badius, celepuk jawa Otus angelinae, cabak gunung Caprimulgus pulchellus, walet gunung Collocalia vulcanorum, pelatuk kundang Reinwardtipicus validus, ciung-mungkal jawa Cochoa azurea, anis hutan Zoothera andromedae, dan beberapa spesies lain. Sejenis ular pegunungan Pseudoxenodon inornatus yang jarang kemungkinan juga terdapat di sini; juga beberapa jenis amfibia langka seperti katak merah (Leptophryne borbonica), dan sejenis sesilia Ichthyophis hypocyaneus.

Hewan-hewan lain yang kadang dijumpai, di antaranya monyet kra (Macaca fascicularis), lutung budeng (Trachypithecus auratus), teledu sigung (Mydaus javanensis), tupai akar (Tupaia glis), tupai kekes (T. javanica), tikus babi (Hylomys suillus), jelarang hitam (Ratufa bicolor), bajing-tanah bergaris-tiga (Lariscus insignis), pelanduk jawa (Tragulus javanicus) dan lain-lain. Seluruhnya, lebih dari 100 jenis mamalia serta lk. 250 jenis burung.

Dalam Ekspedisi ini hewan yang menjadi target riset adalah LUTUNG.

 TNGGP3.jpg 
Pic: Mongabay – Lutung Surili
TNGGP4.jpg 
Pic: Alamendah – Lutung Budeng

TUMBUHAN (FLORA)

Taman nasional ini terutama dikenal karena kekayaan flora hutan pegunungan yang dimilikinya. Sebagai gambaran, di seluruh wilayah CA Cibodas-Gede (kini bagian dari Taman Nasional), pada ketinggian 1.500 m dpl hingga ke puncak Gede dan Pangrango, tercatat tidak kurang dari 870 spesies tumbuhan berbunga dan 150 spesies paku-pakuan. Jenis-jenis anggrek tercatat hingga 200 spesies di seluruh Taman Nasional.

Van Steenis selanjutnya juga mencatat, dari 68 spesies tumbuhan pegunungan yang langka dan hanya diketahui keberadaannya di satu gunung saja di Jawa, 9 jenis di antaranya tercatat hanya dari Gunung Gede, dan 6 dari 9 jenis itu endemik Jawa.

Jenis edelweis jawa (Anaphalis javanica) yang tumbuh melimpah di Alun-alun Suryakancana sangat populer di kalangan pendaki gunung dan pecinta alam, sehingga dijadikan maskot taman nasional ini. Akan tetapi yang endemik Jawa dan agak jarang dijumpai sebetulnya adalah kerabat dekatnya, Anaphalis maxima; di TNGGP hanya didapati di G. Pangrango dekat Kandang Badak. Beberapa jenis endemik lain yang didapati di kawasan ini, di antaranya, sejenis uwi Dioscorea madiunensis; sejenis jernang Daemonorops rubra; pinang hijau Pinanga javana; sejenis kapulaga Amomum pseudofoetens; dan masih banyak lagi.

TNGGP5.jpg 
Pic: Wikipedia – Edelweiss Jawa
  • HAL MENARIK YANG DAPAT DITEMUI:
  • Gunung Gede memiliki spot terbaik untuk menikmati edelweiss, yaitu di Alun-Alun Surya Kencana. Di spot ini pendaki akan dengan mudah menemukan edelweiss. Biasanya area ini juga sering dijadikan sebagai tempat camping oleh para pendaki.
    TNGGP6.jpg 
Pic: Phinemo.com – Alun-alunSurya Kencana (Taman Edelweiss)
  • Pangrango juga memiliki satu tempat yang istimewa, yaitu Lembah Mandalawangi. Di sini, dulu tokoh fenomenal Indonesia, Soe Hok Gie kerap menghabiskan waktu. Bahkan Soe Hok Gie ini juga sempat membuat sebuah puisi dengan judul “Mandalawangi – Pangrango”, dan sampai sekarang puisi ini sangat terkenal di kalangan para pendaki.
  • Gunung Pangrango belum pernah meletus, oleh karena itu gunung ini memiliki puncak berbentuk kerucut yang relatif mulus.
  • Di sekitar Gunung Gede Pangrango terdapat beberapa destinasi wisata yang sudah sangat terkenal, di antaranya Canopy Trail, Telaga Biru, dan Curug Cibeureum.
   TNGGP7.jpg 
Pic: Phinemo.com – Curug Cibeureum
  • PELAYANAN KESEHATAN TERDEKAT:

Klinik Edelweis terletak di dekat Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas

TNGGP8 
Pic: Bogor Channel – Klinik Edelweiss
  • BAHAYA YANG MUNGKIN TERJADI:

Risiko yang dihadapi saat mendaki gunung tak tanggung-tanggung yaitu kematian. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat setidaknya telah menolong pendaki sebanyak 25 kasus dengan berbagai sebab. Pendaki-pendaki yang ditolong Basarnas umumnya karena tersesat (lewat jalur terlarang), kelelahan, cidera saat mendaki, hipotermia, ancaman hewan buas, terjatuh, dan penyebab-penyebab lainnya.

TNGGP9.jpg 
Pic: detik.com - Proses evakuasi mahasiswa Binus oleh tim SAR gabungan (Farhan/detikcom)

INFO TAMBAHAN: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat melarang pendaki membawa air minum dalam kemasan (AMDK) sekali pakai dan tisu basah mulai 1 April 2017. Hal itu lantaran membeludaknya sampah di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. “Larangan itu akan diberlakukan pada 1 April 2017. Nanti masa percobaan 1 bulan mulai 1 April sampai 1 Mei. Selama tiga bulan ini kami sedang sosialisasi dulu,” kata Kepala Seksi Wilayah 1 TNGGP Ardi Andono.

TNGGP10.jpg 
Pic: Kompas.com - Tumpukan sampah di Lembah Suryakencana, Gunung Gede, Jawa Barat, Minggu (5/4/2015)

Demikian kira-kira keterangan yang dapat saya himpun dari berbagai sumber tentang TNGHS dan TNGGP.

TNGHS

TNGHS7.jpg 
Pic: berbaginesia – TNGHS
TNGHS8 
Pic: Shu Travelographer - TNGHS
TNGHS9.png 
Pic: Go-IndoSpot – Bumper Citalahab
TNGHS10.jpg 
Pic: soloraya.com – Canopy Trail (jembatan gantung di TNGHS)

TNGGP

TNGGP11.jpg 
Pic: wisatahalimun – TNGGP
TNGGP12.jpg 
Pic: Winny Marlina - TNGGP
TNGGP13 
Pic: ayokecianjur - Alun-alun Surya Kencana (taman Edelweiss)
TNGGP14.jpg 
Pic: infobudayaindonesia.com – Gunung Gede Pangrango
Sumber: Wikipedia, Kompas.com, detik.com, ezytravel.co.id, Phinemo.com, Bogor Channel, Republika, comicfever, jejakpiknik, Mongabay, Alamendah, berbaginesia, infobudayaindonesia.com, Ayo ke Cianjur, Winny Marlina, Wisata Halimun, Soloraya.com, Go-IndoSpot, Shu Travelographer

 

Berikut foto-foto jurnal saya:

IMG-20180424-WA0039IMG-20180424-WA0040IMG-20180424-WA0041IMG-20180424-WA0042

Riungan Oase Ekspedisi Nol Sampah

Pada hari Rabu tanggal 28 Maret 2018 yang lalu, Klub Oase mengadakan acara Riungan Oase berjudul Ekspedisi Nol Sampah bersama Kak Siska Nirmala, penulis buku Zero Waste Adventure.

Kak Siska dulu waktu masih jadi mahasiswa di UPI Bandung ikut Mapala atau Mahasiswa Pencinta Alam. Sebenarnya Kak Siska waktu kuliah tidak suka naik gunung. Setelah bekerja baru suka naik gunung. Dulu Kak Siska lebih suka manjat tebing karena naik gunung bawaanya berat harus bawa kerir yang berat. Sedangkan kalau panjat tebing tidak perlu bawa barang yang berat.

Tahun 2011 Kak Siska diajak temennya mendaki Gunung Rinjani yang katanya gunung terindah di Indonesia. Tapi ternyata sampahnya banyak sekali. Waktu itu Kak Siska mengobrol dengan salah satu penduduk dan cerita sampah yang tertimbun di tanah itu berlapis-lapis. Yang kebanyakan membuang sampah di situ adalah para pendaki gunung.  Di situ Kak Siska merasa gelisah mengetahui masalah sampah tersebut. Waktu itu Kak Siska masih membawa minuman kaleng, permen, dan ikan kaleng yang menghasilkan sampah.

Tahun 2010 Kak Siska pernah ikut pelatihan konsep zero waste tapi gak terlalu memperhatikan dan akhirnya lupa. Tapi sejak dari Gunung Rinjani itu, Kak Siska ingat lagi konsep ini dan bermotivasi melakukan ekspedisi mendaki gunung tanpa menghasilkan sampah sejak tahun 2012. Kak Siska mendaki Gunung Gede, Gunung Lawu, Gunung Tambora, Gunung Papandayan dan Gunung Argopuro. Jadi ada 5 gunung yang didaki dan pengalamannya dibuat menjadi buku petualangan tanpa sampah. Kenapa cuma 5? Gak penting jumlah gunungnya, yang penting pesan yang disampaikan lewat pendakian.

Kak Siska cerita waktu mendaki Gunung Argopuro bersama teman-temannya, 5 hari 4 malam, mereka tidak menghasilkan sampah sama sekali. Mereka melihat pendaki-pendaki lain turun gunung dengan membawa satu karung yang dipikul berisi sampah-sampah mereka.

Sampah-sampah yang dihasilkan waktu naik gunung biasanya banyak dari makanan instan, seperti mi instan, kopi saset, makanan ringan, coklat, permen, botol air mineral dan tisu basah. Sedangkan Kak Siska bawa sayur-sayur, buah-buahan. Semua dibungkus dengan tas kain. Pengganti coklat adalah dodol yang dibungkus daun jagung. Atau wajik. Jadi semua sayur2 itu dimasak di gunung. Bisa dibuat salad, pecel, sup, atau tumis sayuran. Pengganti tisu basah adalah lap kain. Sisa sampah organik bisa melebur lagi dengan alam melalui dikubur di dalam tanah.

Untuk membawa air minum, Kak Siska cerita mereka membawa gallon air yang ditaruh di mobil. Jadi sebelum mendaki mereka isi botol minum masing-masing dari gallon itu. Botol air mineral tidak boleh dibawa naik karena jadi sampah. Kalau di atas gunung ada mata air, bisa isi lagi di sana.

Banyak aksi bersih yang dilakukan di gunung. Jadi pendaki-pendaki itu mengumpulkan sampah yang mereka temui. Tapi masalahnya sampahnya tetap berkumpul di kaki gunung. Banyak sekali. Penduduk di situ mencoba menangani sampah dengan membakar. Dan asapnya meracuni mereka sendiri. Jadi dengan begitu kita pendaki merugikan penduduk di situ.

Maka dari itu konsep zero waste ini bagus sekali dikenalkan pada para pendaki karena membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup.

Dari pengalaman Kak Siska di atas yang paling menarik adalah waktu Kak Siska merasa gelisah memikirkan masalah sampah di gunung.

Kiat-kiat penting yang berguna dalam melakukan ekspedisi nol sampah adalah manajemen perjalanan:

  • bawa makanan yang tanpa menghasilkan sampah kemasan contoh timbel, nasi bakar, lontong, buras, rendang, dendeng, telor asin, ikan asin, ayam atau daging yang sdh diberi bumbu jadi tinggal dimasak
  • menghitung berapa banyak makanan untuk brp hari

Saya ingin mencoba melakukan ekspedisi nol sampah tapi mungkin saya masih kesulitan menghitung berapa bayak makanan yang harus dibawa dalam satu perjalanan.

Hal yang paling menantang dalam melakukan ekspedisi nol sampah ini adalah ingin makan  makanan instan dan harus masak di atas gunung. Tapi saya bersedia mencoba konsep ini.

 

 

Eksplorasi Si Penghasil Oksigen

Kegiatan kami Penggalang Oase dalam mengeksplorasi tumbuh-tumbuhan.

Hari Rabu tanggal 7 Maret 2018 yang lalu,

seperti biasa kami berkumpul di Rumah Inspirasi pada pukul 8.30.

Aku dan mamaku berangkat menggunakan taksi online. Jalanan sangat macet pagi itu. Mamaku kuatir kami akan terlambat sampe di tujuan. Tapi syukurlah kami tidak terlambat karena upacara belum mulai.

Kami datang ke Rumah Inspirasi dan kami berkumpul di lapangan upacara. Kami dipimpin oleh Kak Andit sebagai pembina upacara. Teman aku bernama Michelle menjadi komandan upacara hari itu. Fakhri membacakan teks Pancasila.

Michelle komandan upacara

Image may contain: 4 people, people smiling, people standing, tree and outdoor

Fakhri membacakan teks Pancasila

Image may contain: 6 people, people smiling, people standing, tree and outdoor

Upacara

Image may contain: one or more people, people standing, sky, tree, outdoor and nature

Sehabis upacara kami mengumpulkan tugas minggu lalu yang diberikan dan sudah kami kerjakan. Ada beberapa orang temanku melakukan presentasi.

Presentasi tugas minggu lalu

Image may contain: 3 people, people smiling, people sitting, tree, child and outdoor

Pramuka Oase bekerja sama dengan Sekala Petualang (Sekolah Konservasi Alam dan Petualangan) untuk melatih kami dalam kegiatan eksplorasi alam.

Hari ini kakak-kakak Sekala Petualang memberikan tugas mengamati pohon yang ada di sekitar kami. Ini adalah tugas per regu. Kami diajak untuk mengamati ciri-ciri fisik pohon seperti contohnya daun, batang, bunga, akar dan buahnya.

Hari ini cuaca sangat panas tapi kami bersemangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Regu aku ada 6 orang tapi ada satu orang yang tidak masuk yaitu Hibban. Ketua regu aku Kaysan dan anggotanya aku, Husayn, Alev, Ibrahim dan Hibban.

Image may contain: 7 people, people smiling, people standing and outdoor

Kami mengukur diameter batang pohon dengan meteran jait. Aku bingung menghitungnya karena hitungnya pakai rumus.  Mengukur ketinggian pohon dengan alat ukur seperti tongkat yang ada ukurannya. Regu kami memilih pohon sukun dan pohon pepaya untuk diamati. Kami diberikan selembar kertas kerja untuk menggambar bagian bagian dari pohon. Aku diberi tugas oleh Kaysan untuk mewarnai. Yang menggambar Kaysan.

Mengukur diameter pohon dengan meteran

Image may contain: one or more people and outdoor

Mengukur ketinggian pohon dengan tongkat

Image may contain: one or more people, people standing, plant, tree, outdoor and nature

Kaysan menggambar daun sukun

Image may contain: one or more people

Regu aku Kelinci Imut

Image may contain: one or more people, child and outdoor

Setelah kami mengisi kertas kerja Alev melakukan presentasi di depan teman-teman yang lain. Dari kegiatan ini kami belajar bahwa pohon tumbuh dan memberikan banyak manfaat bagi makhluk hidup yang lain.

SEMUA FOTO – FOTO DIAMBIL DARI TETANGGA……….. EHHHH……… DARI FANPAGE KLUB OASE

THE END THANKS FOR READING BYE BYE

Editor ejaan dan salah ketik: mama